JILBAB DAN SENJA

   Saat gemricik air hujan terus mengalir, aku menghela nafas dan beristirahat di sebuah ruangan yang biasa aku tempati. Tiba-tiba terdengar suara dari luar pintu. "Tok tok tok" terbesit keraguan dalam hati untuk membuka pintu atau membiarkannya. Kemudian, terdengar suara lagi "assalamu'alaikum", baru setelah itu aku beranjak dan menjawab dengan suara keras sambil menuju pintu. Ternyata dia adalah teman sekolahku.

    "Eeh Fafa, sini masuk" sambutku ramah. "Iya, jadi beli jilbab nggak?" Tanyanya padaku tanpa basa basi. 
Akupun terdiam sejenak dan kujawab " tapi ini sudah sore loh, gimana ya?"
"Ayolah, aku sudah jauh-jauh ke rumahmu."
Karena merasa tak enak, akupun mengiyakan ajakan temanku itu. 
"Ya sudah,  tapi aku minta izin dulu ke orangtuaku ya?" Kataku pelan, Fafapun mengangguk.

   Akhirnya, kami berdua pergi menuju sebuah toko jilbab yang sudah lama kami incar di pusat kota. Tidak seperti sekarang ini, dengan akses yang mudah untuk pergi kemana saja. Kami berdua harus menaiki kendaraan umum yang jalannya lambat, menunggu penumpang lain dengan waktu yang tidak sebentar, dan suasana yang panas. Sebut saja angkot. Kami menaiki angkot dua kali berturut-turut untuk bisa sampai ke kota. 

   Setelah sampai di toko yang kami inginkan sejak lama, dengan senangnya kami memilih jilbab yang pilihannya tidak sedikit, dan membuat bingung harus memilih yang mana. Ada yang merah, merah polos, merah bercorak, bunga tulip, bunga sepatu, dan masih banyak bunga-bunga yang lain, sayangnya tidak ada corak bunga bangkai. Sampai kami lupa waktu dan tak terasa sudah sore. 

   "Fa, ini sudah jam 15.30. Kita kesorean!" Tegurku panik karena ternyata sudah sore.
Dengan buru-buru, kamipun langsung membayar jilbab yang telah dipilih dan sesegera mungkin keluar dari toko mencari angkutan umum untuk pulang. " Tik tok tik tok tik tok" detik, menitpun berlalu. Dan belum juga ada angkutan umum yang kami jumpai. Sudah beberapa orang disekitar yang kami tanya tentang angkutan tersebut, tapi semuanya menjawab sudah tak ada angkutan sore ini.

   Dengan rasa kecewa, kamipun berjalan mengikuti arah jalan pulang berharap ada yang bisa kami tumpangi. Sekitar satu kilometer kami berjalan, tetap saja tidak ada kendaraan yang bisa ditumpangi pulang. Waktupun semakin sore, dan senja hampir habis dimakan sandekala. Kami mencoba menyebrangi jalan raya, eh ternyata untuk menyebranginya harus menunggu selama 10 menit karena jalanannya begitu ramai dan semrawut.

   Adzan maghrib pun berkumandang. Kami masih berada di pusat kota dan belum bisa pulang. Akhirnya, kami berhenti di depan Apotik dengan wajah lusuh karena belum mandi dan perasaan kami tak terbayang kala itu. Takut, panik, gelisah bercampur menjadi satu. Dikatakan anak jalanan tapi pakaiannya cukup rapi, dikatakan bukan anak jalanan tapi kami memang merasa pantas karena duduk berdua di emperan toko menunggu hal yang tidak jelas, dan ketika ditanya orangpun kami hanya mengangguk polos. 

   Karena sudah tak ada cara lain, akupun menghubungi orangtuaku dan menceritakan apa yang terjadi. Aku kirim pesan, aku miskol-miskol, dan akhirnya aku telepon orangtuaku. Mereka sangat khawatir, cemas, dan geregetan dari cara bicaranya di telepon. Dan dengan segera, orangtuaku pun menjemputku dan temanku. Waktu isya hampir tiba dan orangtuaku tiba ditempat kami menunggu, kamipun pulang bersama-sama. Dalam perjalanan pulang, kami dimarahi habis-habisan dan diberi nasehat supaya tidak diulangi lagi. Ini menjadi pelajaran untuk kami, agar tidak pergi jauh ketika waktunya sempit dan tidak memungkinkan.
Sekian**
 
(Diambil dari kisah nyata, saat masih duduk di bangku kelas 2 SMP, 2013)

Maaf jika dalam cerita ini masih banyak kekurangan, ketidakteraturan dalam bahasa, dan sebagainya. Mohon kritik dan saran yang membangun.
#Ussamah_15

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bungkam cinta, sayang dan rindumu

Gundahku

Pahlawan